Rabu, 01 Juni 2016

SA'D BIN ABI WAQQASH ( SINGA YANG MEYEMBUNYIKAN KUKUNYA)



Siapakah Singa yang meyembunyikan kukunya itu?
Setiap kali bertemu dengan Rasulullah beliau menyebutnya dengan ucapan selamat datang , sambil bergurau , " Ini dia pamanku, adakah diantara kalian yang mempunyai paman seperti dia?"
Sa'd adalah cucu Uhaib bin Manaf.Uhaib adalah paman Siti Aminah ibunda Rasulullah.

Sa'd masuk Islam saat berumur 17 tahun.  Termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam.  Beliau pernah berkata, "Saat itu aku adalah sepertiganya Islam,"
Maksudnya adalah beliau adalah satu dari tiga orang yang paling dahulu masuk Islam.

Pada hari-hari pertama Rasulullah menjelaskan Allah Yang Maha Esa, tentang agama baru yang dibawanya ,Sa'd bin Abi Waqos telah  mengulurkan tangan kanannya untuk berbei'at kepada Rasulullah Saw.

Banyak sekali keistimewaan Sa'd yang dapat dibanggakan.  Namun hanya dua keistimewaan yang paling ia banggakan.  Pertama beliau adalah orang pertama kali menggunakan panah dalam perang membela agama Allah, dan beliau adalah orang pertama kali terkena anak panah.
Dan yang kedua ialah beliau merupakan satu-satunya orang yang dijamin Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau ,
Di waktu perang Uhud Rasulullah bersabda, "Panahlah hai Sa'd ! Ibu Bapakku menjadi jaminannya."

Betul beliau selalu membanggakan dua keistimewaan ini dan menjadi kesyukurannya kepada Allah.
Beliau berkata, Demi Allah aku adalah orang yang pertama kali menggunakan panah dalam perang membela agama Allah.

Sa'd termasuk seorang kesatria berkuda paling berani yang dimiliki oleh bangsa Arab dan kaum Muslimin.  Beliau memiliki senjata ampuh yaitu, panah dan doa.  Jika ia memanah pasti mengenai sasarannya, dan jika berdoa pasti dikabulkan.  Ini disebabkan oleh doa Rasulullah untuk dirinya.

Pada suatu hari ketika Rasulullah menyeksikan dari Sa'd sesuatu yang menyenangkan hati beliau, beliau berdoa "Ya Allah tepatkanlah bidikan panahnya, dan kabulkanlah doanya."
Doa Sa'd selalu dikabulkan oleh Allah, Sa'd menyadari hal itu , karena itu ia tidak mau mendoakan yang buruk untuk orang lain, kecuali dengan menyerahkan urusannya kepada Allah.


Kahidupan Sa'd terus berjalan. Beliau menjadi orang yang kaya raya. Harta yang banyak pada Sa'd semuanya diperoleh dari jalan yang halal.  Sa'd adalah teladan dalam kedermawanan, atau bahkan kemampuan dalam mendermawakan hartanya lebih besar dari kemampuannya dalam mengumpulkan harta.


Sa'd mudah menangis jika teringat akan siksa Allah.  Jika beliau mendengar Rasulullah berdakwah memberikan nasihat kepada kaum Muslimin air matanya deras bercucuran.
Allah telah banyak memberikan kemudahan kepada Sa'd , bahkan ibadahnyapun diterima.


Sa'd adalah teladan dalam kedermawanan .  Ia juga teladan dalam membersihkan harta .  Kemampuannya mengumpulkan harta diimbangi dengan kedermawanannya.  Atau bahkan kemampuannya dalam mendermakan harta lebih besar dari kemampuannya dalam mendermakan hartanya.

Sa'd bertanya , "Hawai Rasulullah aku mempunyai harta yang banyak dan ahli warisku hanya seorang putri, bolehkah aku sedekahkan dua pertiga hartaku."
Rasulullah menjawab."Tidak."
"Bagaimana kalau separuhnya?"
Rasulullah menjawab,"Tidak".
"Bagaimana kalau sepertiganya?"
"Boleh dan itu sudah banyak dan itu sudah banyak, kamu tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada kamu tinggalkan dalam keadaan miskin, meminta-minta."
"Apapun yang kamu belanjakan untuk mencari ridho Allah maka pasti ada pahalanya. " 
"Bahkan sedikit makanan yang kamu suapkan ke mulut istrimu."

Sa'd adalah laki-laki yang dipilih Khalifah Umar untuk memimpin pertempuran Qadishiyah yang dasyat itu.  Khalifah mengetahui
semua keistimewaan yang dimilkinya , karena itu ia dipilih lagi untuk mengemban tugas yang berat itu.

Sa'd adalah orang yang doanya dikabulkan, jika ia berdoa agar kaum muslimin mendapat kemenangan pasti Allah mengabulkannya.

Sa'd selalu makan makanan yang halal, bersih kata-katanya dan suci hatinya.   Sa'd selalu mengambil bagian dalam setiap peperangan 
yang diikuti oleh Rasulullah termasuk dalam perang Badar dan perang Uhud.

Umar tidak lupa dengan kisah Sa'd dengan ibunya, sewaktu ia masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah.  Semua cara telah ditempuh ibunya untuk mengembalikan denga harapan hatinya akan   Sa'd ke pelukan agama nenek moyang mereka, menyembah berhala.

Ibunya Sa'd akan mogok makan dan minum sampai  Sa' d bersedia kembali ke agama nenek moyangnya,  mogok makan ia jalani sampai tubuhnya lemah dan hampir mati.

Tetapi Sa'd tidak terpengaruh dan tidak akan menggadaikan keimanan dan keislamannya meskipin nyawa ibunya sebagai taruhannya.

Ketika kondisi sang ibu semakin parah beberapa  orang saudaranya membawa Sa'd kepadanya untuk menyaksikan yang terakhir kalinya

ABDULLAH BIN UMAR (SIMBOL KETEKUNAN BERIBADAH DAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH



Ia memulai hubungan dengan Rasulullh dan Islam sejak berusia 13 tahun.  ketika menyertai ayahnya pergi ke perang Badar.  Berharap bisa diterima sebagai pasukan yang diberangkatkan ke Badar. akan
tetapi ia ditolak karena usianya tidak mencukupi.

Sejak saat itu hingga ia wafat pada usia 85 tahunakan kita dapati bahwa ia laki-laki yang tekun beribadah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

Keistimewaan yang dimilki oleh Abdullah sangat banyak, ilmunya sangat luas, rendah hati, teguh penderian,sholeh,tekun beribadah dan sungguh-sungguh dalam meneladani  Rasul.

Apapun yang dilihatnya dilakukan oleh Rasulullah maka maka ia akan menirunya apa adanya
Misalnya Rasulullah Saw pernah melakukan sholat di suat tempat , maka Ibnu Umar juga melakukannya di tempat itu.  Rasulullah pernah berdoa dengan berdiri di suatu tempat, maka Ibnu Umar pun melakukan di tempat itu berdoa dengan berdiri.  Rasulullah pernah.  menghentikan untanya di tengah perjalanan lalu turun dan sholat dua raka'at maka Ibnu Umarpun melakukan hal yang sama.

Ittibanya kepada Rasulullah dalam bentuk seperti ini sempat membuat kagum Ummul Mukminin
Aisyah  ra berkata: " tidak seorangpun yang ittiba' kepada Rasul melebihi ittiba'nya Ibnu Umar."

Beliau dikaruniai umur yang panjangyang diisinya denga kesetiaan penuh kepada Rasullullah.
Hingga orang-orang shaleh yang hidup semasa dengannya berdo'a,"Ya Allah jangan engkau panggil Ibnu Umar selama aku masih hidup, agar aku bisa meneladaninya, karena aku tidak melihat orang lain yang serupa dengan Rasulullah selain dia".

Perhatiaannya yang mendalam terhadap Rasulullah menjadikannya sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadist.  Hanya hadist-hadist yang ia hafal betul huruf demi huruf yang ia sampaikan kepada orang lain.

Orang-orang yang hidup semasanya berkata , "Tak seorangpun dari para sahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati dalam menyampaikan hadist tidak mau menambahi atau mengurangi sedikitpun yang melebihi Ibnu Umar.

Ia juga sangat berhati-hati dalam berfatwa.  Pernah suatu hari ia ditanya, ia hanya menjawab, "Aku tidak mempunyai pengetahuantentang apa yang engkau tanyakan,"
Orang itupun meninggalkan Ibnu Umar.

Beliau menghindari ijtihad dalam berfatwa, meskipun beliau tahu bahwa Islam memberikan satu pahala bagi yang salah dalam berijtihad dan dua pahala bagi yang ijtihadnya sesuai dengan syariat Islam.  Namun kehati-hatiannya memilih untuk tidak berfatwa.

Beliau juga menghindari diri dari jabatan hakim, padahal saat utu jabatan hakim adalah jabatan tertinggi .  Jabatan yang memberikan kekayaan dan derajad sosial yang tinggi, akan tetapi Ibnu Umar sama sekali tidak membutuhkan kekayaan dan status sosial.

Suatu hari ia dipanggil oleh Khalifah Utsman ra, dan diminta untuk menduduki jabatan hakimAgung, Ibnu Umar menolak walaupun Khalifah Utsman memintanya berkali-kali.
Khalifah Utsman berkata: "Apa engkau melanggar perintahku?"
"Sama sekali tidak, hanya saja yang aku tahu hakim itu ada 3 macam.
1. Hakim yang memutuskan perkara tidak didasari ilmu maka ia akan masuk neraka.
2. Hakim yang memutuskan perkara dengan semaunya saja, maka diapun akan masuk neraka.
3. Hakim yang memutuskan perkara dengan berijtihad dan hasil ijtihadnya tepat maka maka ia
    tidak berdosa dan tidak mendapatkan pahala.  Demi Allah aku meminta kepadamu agar dijauhkan
    dari jabatan itu,

Khafilah menerima keberatan itu setelah mendapat jaminan bahwa Ibnu Umar tidak akan membeeritahukan hal itu kepada siapapun,karena Ibnu Umar punya tempat tersendiri di hati kaum muslimin,jika orang-orang shaleh tahu penolakan Umar terhadap jabatan hakim maka khalifah tidak akan mendapatkan orang shaleh yang menjadi hakim.

Mungkin ada yang mengira sikap Ibnu Umar ini tidak tepat, akan tetapi Ibnu Umar tidak akan menolak jabatan hakim manakala tidak ada lagi yang layak menjadi hakim.  Kenyataannya selain Ibnu Umar, ada banyak generasi sahabat yang sholeh, diantara mereka ada yang terjun di bidang peradilan dan fatwa.

Penolakan Ibnu Umar tidak menjadikan tugas hakim peradilan menjadi terbengkalai atau dipegang oleh orang-orang yang tidak layak memegang jabatan itu.
Ibnu Umar lebih memilih hidup jauh dari hiruk pikuk dunia dan memilih menyibukkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Pada saat itu kaum muslimin semakin maju, kekayaan dan jabatan terbuka luas.  Tidak sedikit dari kaum muslimin yang tergoda harta dan jabatan, Ini yang menjadikan generasi beberapa sahabat, termasuk Ibnu Umar memilih godaan dunia itu , dan menjadi teladan bagi kezuhudan.

Saat remaja Ibnu Umar prnah bermimpi, lalu mimpinya ditafsiri oleh Rasulullah, apa mimpinya itu,marilah kita dengar bagaimana ia bercerita.
"Semasa Rasulullah Saw, aku bermimpi seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru, tempat di mana saja di surga yang aku inginkan maka beludru itu akan membawaku ke sana.

Aku juga melihat dua orang mendatangiku dan ingin membawaku ke neraka, lalu seorang malaikat mencegatnya dan berkata, " Jangan ganggu dia, " maka aku dilepaskan.
Saudara perempuanku yang bernama Hafshah menceritakan mimpiku itu kepada Rasulullah.
Beliau berkomentar, "Abdullah sangat beruntung, jika ia mau memperbanyak sholat malam.

Sejak saat itu hingga ia wafat, bertemu Tuhannya ia tidak pernah meninggaikan sholat malam,
Ketika ia berada di rumah maupun saat ia bepergian.
Sejak saat itu , waktunya ia habiskan untuk sholat, membaca Al'Qur'an dan berzikir.
Ia seperti ayahnya.  Setiap kali mendengar ayat-ayat suci Al'Qur'an air matanya selalu berderai.
 Ubaid bin Umar pernah berkata, " Aku pernah membacakan ayat suci Al'Qur'an , berikut ini kepada Umar, yaitu surat An-Nisa ayat 41-42

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
Yang artinya

(Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu) , di hari itu orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah dan mereka tidak dapat menyembunyikan dari Allah sesuatu kejadianpun,"  " .

Ibnu Umar pun menangis, hingga janggutnya basah oleh air mata. Suatu hari ia duduk diantara sahabat-sahabatnya lalu ia membaca surat Al-Muthaffifin ayat

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta untuk dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang
( belum selesai.........

ABU DZAR AL-GHIFARI (PELOPOR PERLAWANAN DAN TOKOH GERAKAN HIDUP SEDERHANA


Ia datang ke Mekah dengan langkah gontai dan tubuh lemah lunglai.  namun ada sinar kebahagiaan di wajahnya.  Beratnya perjalanan di tengah gurun sahara,telah membuatnya sangat letih, namun keletihannya terbayar dengan tujuan yang ingin dicapainya.

Ia memasuki kota dengan menyamar,Ia seperti orang yang hendak melakukan peribadatan menyembah berhala-berhala di sekitar Ka'bah.  Ia seperti musafir yang tersesat dan singgah dahulu sebentara untuk beristirahat.  Padahal seandainya orang Mekah tahu bahwa kedatangannya ke Mekah untuk menemui Rasulullah Saw dan mendengar keterangannya pastilah orang-orang Mekah akan membunuhnya.

Ia sadar akan hal itu, ia juga tidak takut dibunuh,asalkan ia dapat bertemu dengan Muhammad Saw.
Setelah ia berteman dengan laki-laki itu dan beriman dengannya, apabila dakwahnya bisa ia terima.

Ia selalu memasang telinga setiap kali ada orang berbicara tentang Muhammad Saw ia menyimak dengan seksama dan sangat berhati-hati.  Akhirnya dari banyak cerita yang ia dengar, ia tahu di mana bisa menemui Muhammad Saw.

Di suatu pagi ia pergi ke tempat itu, ia mendapati Muhammad Saw duduk seorang diri, ia mendekat dan berkata: "Selamat pagi, wahai kawan sebangsa."
Rasul menjawab "Semoga kesejahteraan selalu menyertaimu wahai sahabat."
Kata Abu Dzar "Senandungkan kepadaku syair ciptaanmu ."
Rasul menjawab," Aku tidak mempunyai syair yang bisa kusenandungkan, ini adalah Al'Qur"an Nur Karim.
" Kalau begitu bacakanlah." kata Abu Dzar.
Maka Rasulullah membacakannya dan Abu Dzar mendengarkannya dengan baik.
Belum banyak ayat yang dibacakan Rasulullah , Abu Dzar mengucapkan ,"Asyhadu ala ilaha illallah
wa asyhadu anna Mauhammadan ' abduhu wa rasuluh.  Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Rasulullah bertanya, "Engkau darimana saudara sebangsa?"
"Dari suku Ghifar, jawab Abu Dzar.
Rasulullah tersenyum senang dan takjub, Abu Dzarpun tersenyum.
Ia tahu mengapa Rasulullah takjub, ketika mendengar bahwa orang yang masuk Islam yang berada di hadapannya ini adalah orang Ghifar.

Suku Ghifar adalah perampok yang sangat kejam.  Bahkan sudah menjadi simbol perampokan rombonngan pedagang yang kemalaman dan bermalam di wilayah ghifar pasti akan berakhir dengan sangat mengenaskan.  Sekarang saat Islam baru saja lahir dan bergerak dengan sembunyi- sembunyi
ada orang ghifar yang datang dengan sengaja untuk masuk Islam.

Abu Dzar menceritakan sendiri kisah itu, Rasulullahpun sangat takjub karena aku dari Ghifar.
Beliau bersabda,"Sesungguhnya Allah memberi petunjuk bagi siapa saja yang dikehendaki."

Sejak dulu Abu Dzar sudah bisa memisahkan antara yang baik dan yang benar dengan yang salah,
Diapun tidak mau mengakui bahwa patung (berhala) adalah tuhan,  Ia meyakini ada satu Sang Pencipta Yang Maha Agung.  Karena itulah ketika ia mendengar ada seorang nabi yang menentang adanya berhala-berhala itu dan mengajak manusia untuk menyembah Tuhan yang satu yaitu "Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. maka iapun bergegas menyiapkan bekal untuk menemui nabi itu

                                 


Saat Abu Dzar masuk Islam ia terhitung sebagai orang ke lima yang masuk Islam., Jadi ia masuk Islam di hari-hari pertama.
Saat ia masuk Islam dakwah yang dilakukan Rasulullah masih sembunyi-sembunyi baik kepada lima lainnya maupun kepada Abu Dzar,  dan bagi Abu Dzar tidak ada yang dapat dilakukannya kecuali merahasiakan keimanan itu dalam dada, lalu meninggalkan kota Mekah secara diam-diam dan kembali kepada kaumnya.
Tetapi Abu Dzar yang nama aslinya Jundub bin Junadah orang yang pemberani, ia diciptakan untuk menentang segala kebhatilan.  Dan sekarang kebatilan itu berada di depan matanya. Ia melihat pahatan patung-patung bisu yang disembah dan diagung-agungkan.

Memang ia melihat Rasul berdakwah secara sembunyi-sembunyi, pada hari-hari tersebut, akan tetapi harus ada yang meneriakkan dakwah ini, Dan itu akan ia lakukan sebelum meninggalkan kota Mekah.

Saat baru saja masuk Islam , beliau bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah apa yang harus aku kerjakan".  Rasul menjawab," Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintah dariku."
Abu Dzar berkata," Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, aku tidak akan pulang ke kampungku sebelum meneriakk
an Islam di Ka'bah.

Lihatlah, ia masuk Masjidil Haram, lalu berteriak-teriak sekencang-kencangnya.
"Asyhadu alla ilaha illallah,wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah."

Menurut saya , inilah pertama kali Islam disuarakan dengan terang-terangan menantang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakan telinga mereka.  Diteriakkan oleh orang asing yang tidak mempunyai kedudukan, keluarga , dan pembela di kota Mekah.

Abu Dzar sudah tahu resiko yang akan ia hadapi. orang-orang kafir Quraisy  mengepung dan memukulinya hingga pingsan.

Peristiwa itu didengar oleh   Abbas , beliau adalah paman nabi Muhammad Saw, maka ia bergegas mendatangi tempat itu, ia tidak bisa menyelamatkan Abu Dzar kecuali dengan siasat,
Abbas berkata kepada orang-orang yang memukuli Abu Dzar , "Wahai kaum Quaraisy, kalian adalah kaum pedagang yang melewati wilayah Ghifar, dan orang ini termasuk tokoh suku Ghifar, jika dia menggerakkan kaumnya, pastilah kafilah dagang kalian akan celaka."

Mereka berhenti memukuli Abu Dzar dan meninggalkannya.  Akan tetapi bukan Abu Dzar jika ia menyerah begitu saja.  Apalagi ia sudah menikmati asyiknya tantangan dalam membela agama Allah.
Ia tidak akan meninggalkan Mekah sebelum menikmati tantangan itu lagi.

Keesokan harinya ia melihat dua orang wanita sedang menyembah berhala Usaf dan Nailah', Abu Dzar mengahampiri kedua wanita itu dan menghina sejadi-jadinya berhala-berhala yang mereka sembah, kedua wanita itu berteriak minta tolong, orang-orang berdatangan lalu kembali memukuli Abu Dzar hingga tak sadarkan diri lagi.
                                                                          

BILAL BIN RABAH "MUAZZIN RASULULLAH, SIMBOL PERSAMAAN DERAJAD DAN SIMBOL PERLAWANAN




Jika disebut nama Abu Bakar, maka Umar akan berkata," Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita, maksudnya ialah BILAL BIN RABAH.

Seseorang yang diberi gelar oleh Umar "Pemimpin kita" tentulah seorang tokoh yang layak memperoleh kehormatan seperti itu.
Tetapi setiap menerima pujian yang ditujukan kepada laki-laki kurus, hitam, kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis ini pasti menundukkan kepala dan memejamkan mata. Lalu dengan air mata membasahi pipinya, ia berkata," Aku ini orang Habsy berasal dari Habasya, baru saja aku dibebaskan dari statusku sebagai budak belian"

Siapakah kiranya budak belian tersebut?

  Dialah Bilal bin Rabah, yang mengumandangkan seruan Azan untuk memanggil sholat bagi seluruh  muslim di seluruh penjuru dunia.

Nama Bilal bin Rabah terkenal sampai ke seluruh dunia, dari sepuluh orang muslim di setiap generasi paling tidak ada tujuh orang yang mengenal Bilal.

Sebelum menjadi Muazin Rasulullah, Bilal adalah seorang budak belian , yang disiksa oleh tuannya dengan menggunakan batu besar  di tengah terik panas , agar ia meninggalkan Islam.
Namun ia menjawab , " AHAD (ALLAH MAHA ESA), AHAD (ALLAH MAHA ESA).

Sebelum masuk Islam Bilal adalah seorang budak belian.  Beliau berasal dari Habsy dan berkulit hitam.Takdir membawa nasibnya menjadi seorang budak bani Jumah di kota Mekah, karena ibunya juga seorang budak.

Kehidupannya hampa, ia tidak memiliki hari ini dan hari esok.  Ia mendengar tentang Muhammad ketika orang-orang Mekah mulai membicarakannnya. Terutama Umayah bin Khalaf yang merupakan tokoh utama Bani Jumah , kabilah tempat Bila mengabdi.

Seringkali ia mendengar Umayah membicarakan Rasulullah, baik dengan teman-temannya maupun dengan sesama warga kabilahnya.  Pembicaraan yang penuh dengan kemarahan, kebencian dan prasangka buruk.

Meskipun pembicaraan Umayah penuh kebenciandan kemarahan namun gambaran Muhammad dan agama barunya bisa ditangkap oleh Bilal.  Ia melihat bahwa agama yang dibawa Muhammad adalah ajaran yang berbeda dengan dengan kondisi masyarakat saat itu..  Bilal juga menangkap bahwa Umayah dan para pembesar lainnya mengakui dan kejujuran Muhammad Saw.

Bilal mendengar ketakjuban dan kebingungan mereka menyikapi agama baru yang dibawa Muhamad Saw .  Di antara mereka ada yang berkata kepada yang lain,"Muhammad tidak pernah berdusta, Muhammad bukan tukang sihir, Muhammad tidak gila, namun kita harus menuduhnya pendusta, tukang sihir dan orang gila, agar masyarakat tidak berlomba-lomba mengikuti agamanya.

Bilal selalu mendengar mereka membicarakan sifat Muhammad yang jujur, selalu menepati janji, pribadi yang lihur, berahklak mulia, berhati bersih dan cerdas.

Bilal juga mendengar kebencian mereka kepada Muhammad dan kekhawatiran mereka terhadap agama nenek moyang mereka yaitu penyembah berhala.  Selain itu mereka juga merasa iri hati karena nabi baru ini berasal dari bani Hasyim, bukan dari kalangan mereka.

Suatu hari Bilal bin Rabah mendapat cahaya Ilahi.. Hatinya tergetar oleh sentuhan cahaya itu, lalu ia datang kepada Rasulullah dan masuk Islam.

Berita keislaman Bilal pun menyebar, para tokoh bani Jumahpun  pusing tujuh keliling, kepala mereka yang penuh dengan kesombongan pun seakan mau pecah.  Apalagi Umayah bin Khalaf, keislaman satu budak beliannya merupakan satu tamparan keras ke wajahnya.

Orang Habsy yang menjadi budak mereka itu masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad.?
"Huh , tidak mengapa. Tunggulah ! Sebelum matahari tenggelam, pasti keislaman budakku ini sudah terlebih dahulu tenggelam,"kata Umayah dalam hati.

Ternyata mataharipun terbenam tanpa diikuti tenggelamnya keislaman Bilal, dan suatu saat nanti matahari terbenam dan membenamkan berhala-berhala jahiliah dan para pemujannya.

Allah menjadikan Bilal sebagai simbol teladan, bahwa hitamnya warna kulit dan status sebagai budak belian sama sekali tidak menghalangi kebesaran jiwa , Sakitnya siksaan tuannya tidak menjadikan Bilal berpaling kepada agama berhala.

Suatu hari Bilal disiksa oleh tuannya, Umayah bin Khalaf ,ia menyuruh algojonya untuk membaringkan Bilal di atas padang pasir yang panas , tanpa menggunakan baju dan celana panjang,
Padang pasir yang terkena sinar matahari berubah menjadi padang pasir neraka karena sangat panas,
Kemudian tubuh Bilah di tekan dengan batu besar yang sangat panas, ia merasa seperti berada di dua bara api yang sangat panas. Siksaan yang kejam dan biadab ini mereka ulangi setiap hari, hingga beberapa algojo Umayah merasa kasihan kepadanya, mereka mau melepaskan Bilal asalkan ia mau sedikit saja memuji tuhan mereka yaitu berhala-berhala, agar orang Quraisy tidak mencibir mereka atas ketidakberdayaan mereka menghadapi budak sendiri.

Sebetulnya Bilal bisa berpura-pura memuji tuhan berhala mereka, dan ia bisa se;amat dari siksaan mereka.  meskipun hanya berpura-pura dan hanya menyebutkan satu kata Bilal tidak mau mengucapkannya.  Sebagai gantinya ia mengucapkan " Ahad.....Ahad..."
Para algojo penyiksa berkata "Sebutlah tuhan lata dan tuhan uzza."
Namun Bilal menjawab "Ahad...Ahad...
Mereka berkata " Katakanlah sep[erti yang kami katakan."
Bilal menjawab,"Aku tidak mampu mengucapkannya."

Di malam hari mereka memberikan tawaran kepada Bilal agar Bilal mengatakan yang baik-baik tentang tuhan lata dan tuhan uzza,  tetapi dengan mantap Bilal menggelengkan kepala dan tetap mengatakan "Ahad.....Ahad....
Umayah bin Khalaf marah dan geram,ia berkata "Hai budak celaka, engkau akan ku siksa sampai engkau mau menyebutkan tuhan lata dan tuhan uzza sebagai tuhanmu.
Dengan tenang Bilal menjawab,"Ahad.....Ahad....

Waktu pagi tiba , siangpun menjelang ia dibawa ke padang pasir, ia hadapi siksaan itu dengan tabah, sabar, teguh tak tergoyahkan.
Abu Bakar ra mendatangi mereka yang sedang menyiksa Bilal.
Beliau berkata, "Apakah kalian akan membunuh seseorang karena dia mengatakan ,"Tuhanku adalah Allah."
Beliau berkata kepada Umayah,"Berikanlah harga yang mahal dari harganya, aku akan memerdekannya.

Dengan sangat senang Umayah menerima tawaran Abu Bakar, sejak saat itu Bilal bukan lagi sebagai budak belian, ia sama seperti orang merdeka lainnya.

Ketika Abu Bakar menggandeng Bilal dan mengajaknya pergi, Umayah berkata kepada Abu Bakar
"Bawalah dia, demi tuhan lata dan tuhan uzza, seandainya engkau hanya menghargainya dengan satu tail emaspun aku pasti menerimanya.

Abu Bakar memahami bahwa kata-kata itu hanyalah basa-basi yang keluar karena keputus asaan .
Jadi tidak perlu dijawab, tapi ini karena menyangkut kehormatan saudara sesama Muslim yang tak berbeda dengan dirinya , Abu Bakar berkata kepada Umayah,"Seandainya pun kalian menghargainya dengan harga 100 tail emaspun aku pasti akan membelinya.

Abu Bakar bersama Bilal menemui Rasulullah, memberitahukan kebebasan Bilal,saat itu bagaikan hari raya yang penuh kegembiraan.

Setelah Rasulullah hijrah bersama kaum muslimin dan menetap di Medinah, beliaupun mensyariatkan azan untuk melakukan sholat.
Siapakah kiranya yang menjadi muazzin untyuk sholat sebanyak lima kali dalam sehari semalam,
Siapakah yang suara dan takbir dan tahlilnya akan berkumandang ke seluruh penjuru kota Medinah.

Dialah Bilal yang telah menyerukan "Ahad...Ahad , ketika diterpa siksaan 13 tahun yang lalu.
Hari itu Rasulullah memilihnya sebagai muazzin pertama kali dalam Islam.
Dengan suaranya yang tinggi dan merdu, lantunan demi lantunan adzan menyejukkan hati kaum muslimin, Dengarlah lantunan suara Bilal.

Allahu Akbar.....Allahu Akbar
Allahu Akbar.....Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasululloh
Asyhadu anna Muhammadar Rasululloh
Hayya 'alas sholah
Hayya ' asas sholah
Hayya 'alal falah
Hayya 'alal falahAllahu Akbar..Allahu Akbar...
La ilaha illalah.....

Saat terjadi perang Badar , Bilal dengan cekatan menebaskan pedangnya,  Inilah perang pertama yang diterjuni kaum muslimin .  Rasulloh memerintahkan pasukannya agar menjadikan , "Ahad..Ahad,,"
sebagai slogan penyemangat pasukan muslimin...

Kaum kafir Quraisy mengerahkan pasukan intinya dalam peperangan ini, tidak ketinggalan para pemukanya.  Pada mulanya Umayah mantan majikan Bilal yang telah menyiksanya dengan kejam tidak mau ikut dalam peperangan ini , namun ia didatangi Uqbah bin Abi Mu'ith sambil membawa
mijmar (yaitu dupa yang digunakan para wanita untuk membakar kayu wangi).
Dupa itu diletakkan di depan rumah Umayah sambil berkata, "Hai Umayah gunakanlah dupa ini . karena kamu ternyata seorang wanita."
"Keparat kau, apa yang kau bawa ini?"  Teriak Umayah dengan geram.  Ia bergegas berangkat bersama pasukan yang lain.

Uqbah bin Abi Mu'ith adalah orang yang paling gigih menyuruh Umayah melakukan penyiksaan terhadap Bilal.  Dan dalam perang ini mereka berdua ikut.  Inilah perang yang akan menjadi kuburan bagi mereka.

Dan takdir Allah menghinakan orang yang sewenang-wenang .
Di tangan siapakah Dia menemui kematiannya ?
Di tangan Bilal, Bilal membunuhnya dengan tangannya sendiri.  Tangan yang dulu dirantai oleh Umayah dan disiksa dengan sangat kejam.

Perang Badar mulai berkecamuk, Pasukan kaum muslimin bergerak maju dengan semboyannya, "Ahad...Ahad...".  Jantung Umayah bagai tercabut dari badannya dan rasa takut yang amat sangat menghantui dirinya.

Kalimat yang kemarin diulang-ulang oleh budak beliannya saat menghadapi siksa sekarang menjadi semboyan satu agama dan umat baru.
Perang makin memanas, suara benturan terdengar kencang memekakan telinga.
Korban masing - masing berjatuhan di masing-masing pihak.

Ketika perang hampir usai , Umayah yang licik dan takut melihat Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasululloh.  Ia segera meminta perlindungan kepadanya... Umayah meminta Abdurrahman bin Auf menjadikannya sebagai tawanan, dengan harapan ia dapat selamat dari pedang pasukan muslimin.

Abdurrahman memenuhi permintaan Umayah dan berjanji akan melindunginya..  Lalu membawanya ke tempat tawanan perang.  Bilal yang melihat keberadaan Umayah , ia menghampiri dan berteriak, " Itu dia gembong kekafiran.  Umayah bin Khalaf , aku tidak akan aman jika ia selamat."

Sambil berkata demekian Bilal mengangkat pedangnya, yang hendak menebas kepala Umayah yang selama ini penuh dengan kesombongan.  Namun Abdurrah man berteriak, " Bilal jangan, dia adalah tawananku."
"Tawanan bukankah perang belum usai,  lihatlah pedangnya masih berlumuran darah kaum muslimin."  Bilal menjawab dengan nada keheranan dan mengolok-oloknya.  Selama ini Umayah
mengolok dirinya dan agama Islam dengan sepuas-puasnya.

Bilal merasa tidak mampu menggagalkan perlindungan saudara seagamanya yaitu Abdurrahman bin Auf, kecuali dengan bantuan yang lain.
Kemudian ia berteriak dengan kencang, "Wahai kaum Muslimin pembela agama Allah, ini dia gembong kekafiran yang selama ini mengejek kaum Muslimin dan mengagungkan berhala-berhalanya, aku tidak akan aman jika ia selamat."

Kaum Muslimin segera berdatangan , mereka mengepung Umayah bin Khalaf.  Dalam kondisi ini Abdurrahman bin Auf tidak bisa berbuat apa-apa.  Bahkan bajunya terkoyak akibat desakan kaum Muslimin.

Bilal memandangi tubuh Umayah bin Auf yang telah roboh oleh tebasan pedangnya.  Kemudian ia meninggalkannya dengan teriakan " Ahad...Ahad..."

Apakah perbuatan Bilal salah?,bukankah lebih utama jika Bilal memaafkan Umayah?,  Menurut saya pertanyaan ini tidak tepat diajukan dalam kondisi seperti itu.  Seandainya pertemuan Bilal dan Umayah dalam suasana yang lain mungkin pertanyaan ini bisa kita ajukan, dan laki-laki seperti Bilal yang menjadi sahabat Rasululloh pasti akan memaafkan.

Lihatlah mereka bertemu dalam suatu peperangan, masing-masing ingin menghabisi lawannya.
Pedang saling beradu , korban berjatuhan , kematian menjadi sangat dekat.
Di saat seperti itu Bilal melihat Umayah yang menyiksanya habis-habisan.  Bahkan setiap jengkal tubuhnya masih merasakan kepedihan akibat siksaannya.

Di perang Badar itu , Bilal menyeksikan pedang Umayah bergerak membunuh kaum Muslimin.
Seandainya ia punya kesempatan untuk memenggal leher Bilal, tentulah ia akan melakukannya.
Dalam suasana inilah mereka bertemu.  Tidak masuk akal kalau kita mengajukan pertanyaan . "Mengapa Bilal tidak memaafkannya."



Waktu terus berjalan , hingga tibalah pembebasan kota Mekah.  Dengan membawa 10 ribu kaum Muslimin Rasululloh memasuki kota Mekah dengan membaca tahmid dan takbir.  Beliau menuju Ka'bah tempat suci yang dijejali 360 berhala oleh suku Quraisy.

Yang benar telah datang, yang batil pasti menyingkir.
Mulai hari ini tidak ada lagi, Lata, Uzza atau Hubal.
Mulai hari ini tidak ada lagi yang menyembah patung.  Tidak ada lagi yang mereka puja sepenuh hati selain Allah.  Allah yang Maha Tinggi, Allah yang Maha Besar, Allah yang Esa, Yang tiada satu pun yang menyerupaiNya.

Dengan ditemani Bilal Rasululloh masuk ke dalam Ka'bah.  Di dekat pintu berdiri patung seperti Ibrahim AS. Dengan menggunakan panah , Rasululloh marah dan berkata, " Semoga Allah membinasakannya, nenek moyang kita bukan orang Yahudi dan bukan orang Nasrani, dia seorang muslim dan sama sekali tidak melakukan kemusyrikan."

Rasululloh menyuruh Bilal naik ke atas masjid untuk mengumandangkan adzan.  Maka Bilalpun mengumandangkan adzan .  Sungguh saat-saat yang sangat mengharukan.  Lihatlah tempatnya, lihatlah suasananya .  Detak kehidupan kota Mekah seakan terhenti, hening , ribuan kaum Muslimin berdiri terpaku.  Dengan suara lirih mereka mengulangi lafal-lafal adzan yang dikumandangkan Bilal.Sungguh suasana yang sangat mengharukan.

Sementara itu orang kafir yang masih berada di rumah mereka belum percaya.
" Inikah dia Muhammad  dan  orang-orang miskin yang menjadi pengikutnya yang kemarin diusir dari kota ini?"
" Betulkah dia adalah Muhammad itu ? pengikutnya sudah berjumlah 10 ribu orang?
"Betulkah dia adalah Muhammad itu ? Yang kemarin kami usir, kami perangi, dan kami bunuh orang-orang terdekatnya?"
"Betulkah dia adalah Muhammad itu, yang baru saja berkata, "Kalian bebas, pergilah" padahal dia mampu membunuh kami semua."

Pertanyaan - pertanyaan itu mengusik kepala mereka.
Sementara itu ada tiga orang bangsawan yang sedang duduk dekat Ka'bah.  Mereka tampak terpukul menyaksikan Bilal menginjak-injak berhala-berhala mereka, lalu mengumandangkan adzan yang menembus seluruh penjuru Mekah, bagai tiupan angin di musim semi.

Ketiga orang itu adalah Abu Sufyan bin Harb (sudah masuk Islam beberapa saat yang lalu) Attab bin Usaid dan Harist bin Hisyam (keduanya belum masuk Islam ).

Dengan mata tertuju kepada Bilal, yang sedang mengumandangkan adzan, Attab berkata,"Tuhan telah memuliakan Usaid, dengan tidak mendengarkan seruan ini agar tidak mendengar sesuatu yang dibencinya.
Harist berkata,"Demi Tuhan , jika aku tahu Muhammad itu benar,sungguh aku akan mengikutinya."
 Abu Sufyan mengomentari perkataan mereka, "Aku tidak berkata apa-apa,jika aku mengucapkan sesuatu pasti kerikil ini akan menyebarkan perkataanku.

Ketika Nabi meninggalkan Ka'bah beliau melihat ke arah mereka.
Beliau memperhatikan mereka sebentar, dengan tatapan penuh cahaya Ilahi dan kemenangan beliau berkata,"Aku tahu apa yang kalian ucapkan."  Dan beliau memberitahukan apa yang mereka ucapkan.

Tiba-tiba Harist dan Attab berkata, "Kami bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah, Demi Tuhan tidak ada seorangpun mendengar ucapan kami hingga kami menuduhnya telah bercerita kepadamu."

Sekarang cara pandang mereka terhadap Bilal berubah, di hati mereka bergema kalimat yang mereka dengar dalam khutbah Raululloh sewaktu memasuki kota Mekah.  "Hai orang-orang Quraisy , Allah telah melenyapkan kesombongan Jahiliah dan bangga pada nenek moyang.
Semua manusia bermula dari Adam dan Adam berasal dari tanah.

Bilal melanjutkan hidupnya bersama Rasululloh, ia ikut ambil bagian dalam peristiwa penting.  Ia menjadi muazzin.  Ia menghidupkan dan menjaga syiar-syiar Islam, agama besar yang telah menyelamatkannya dari kegelapan dan perbudakan.

Islam makin tinggi, begitu juga kaum muslimin .  Dan semakin hari Bilal semakin dekat dengan Rasululloh yang menjulukinya sebagai "Laki-laki penghuni surga"

Namun Bilal tetap Bilal, ia tetap berhati mulia dan rendah hati, ia tetap melihat dirinya sebagai orang
Habsyi yang dahulu sebagai budak belian.

Rasululloh wafat, menghadap Sang Pencipta dalam keadaan Ridho dan diridhoi.  Tanggungjawab
pemimpin kaum muslimin telah beliau bebankan kepada Abu Bakar ash-shiddiq.

Suatu hari , Bilal menghadap Khalifah Abu Bakar, "Wahai Khalifah Rasululloh pernah bersabda ,"Amal perbuatan seorang mukmin,yang paling utama adalah berperang di jalan Allah."
Khalifah berkata ," Lalu apa yang engkau inginkan wahai Bilal?'
"Aku ingin tetap bergabung dalam pasukan perang hingga syahid,"
Khalifah berkata,"Lantas siapa yang menjadi Muazzin?"
Dengan menangis , Bilal berkata, "Aku tidak akan menjadi Muazzin setelah Rasululloh wafat."
"Tidak Engkau harus tetap di sini dan menjadi muazzin," kata Abu Bakar.
Bilal menjawab,"Jika sewaktu menebusku Engkau ingin menjadikan aku seorang budak lagi, maka aku akan menuruti kemauanmu. Namun jika Engkau menebusku karena Allah, maka bebaskan aku memilih,".
Khalifah menjawab,"Aku menebusmu karena Allah."

Sejumlah ahli sejarah menyebutkan bahwa setelah itu Bilal pergi ke Syam, menetap di  tempat itu dan bergabung dalam pasukan Islam.
Sejumlah ahli sejarah lain, menyebutkan bahwa Bilal menerima tawaran Abu Bakar, menetap di Mekah.  Setelah Khalifah Abu Bakar wafat dan Umar diangkat menjadi penggantinya, Bilal meminta izin untuk pergi ke Syam.

Apapun adanya Bilal telah menazarkan  sisa hidupnya untuk berperang di jalan Allah.  Tekadnya telah bulat untuk mengakhiri hidupnya , berjumpa Allah dan Rasululloh , saat ia melakukan amal perbuatan yang paling disukai Allah dan Rasulnya.

Ia tidak mau lagi mengumandangkan adzan , karena setiap kali ia mengumandangkan "Asyhadu anna
Muhammadar Rasululloh, maka kenangan lamanya bangkit kembali, dan suaranya tertelan oleh kesedihan.  Lalu ia tidak bisa menahan tangis,

Ia mengumandangkan adzan untuk yang terakhir kali adalah saat Khalifah Umar ra, mengunjungi Syam.  Ketika waktu sholat tiba , kaum muslimin memohon kepada Khalifah agar menyuruh Bilal
mengumandangkan adzan walaupun hanya sekali.

Bilal naik ke menara dan mengumandangkan adzan.  Para sahabat yang pernah hidup bersama Rasululloh menangis tersedu-sedu, seakan belum pernah menangis.  Terutama Khalifah Umar .ra

Bilal ra. wafatdi Syam, di medan jihad, seperti yang ia inginkan.
Di tanah Damaskus , jasad laki-laki agung ini dikuburkan.
Laki-laki yang sangat gigih membela akidah dan keimanannya.


                               
                            UCAPAN SALAM UNTUKMU WAHAI   BILAL BIN RABAH


Penulis Retno Yuniarti
diambil dari buku : 60 Sirah Sahabat Rasululloh
yang ditulis Khalid Muhammad Khalid


Silahkan disebarkan , semoga bermanfaat.